Home > Inspirasi > Kata Pengantar : Dahlan Iskan

Kata Pengantar : Dahlan Iskan

Kata Pengantar Dahlan Iskan

Dalam sebuah wisuda fakultas teknik perguruan tinggi swasta, saya diminta menyampaikan pidato utama. Yakni tidak lama setelah saya terpilih sebagai Enterpreuneur of The Year tingkat dunia di Monaco. Saya sudah lama tidak percaya pada manfaat pidato. Karena itu, meski agak terasa aneh, tapi tetap saya lakukan apa yang ingin saya lakukan: saya memulai pidato dengan bertanya langsung kepada wisudawan yang jumlahnya sekitar 250 orang. Semuanya berpakaian rapi, berjas almamater, mengenakan dasi dan menutup kepalanya dengan topi wisuda.
Pertanyaan saya adalah: siapa di antara wisudawan/ti yang diwisuda hari itu sudah punya rencana konkrit akan mengerjakan apa besok pagi. Saya tunggu satu menit tidak ada yang angkat tangan. Lalu saya keluarkan dompet. Saya ambil uang ren min bi yang kebetulan ada di dompet saya. Hari itu saya memang baru pulang dari Tiongkok sehingga masih punya beberapa lembar ren min bi di dompet saya. “Yang sudah punya rencana konkrit akan berbuat apa besok pagi, silakan maju. Ini ada uang 500 ren min bi,” kata saya. Nilainya sekitar Rp 600.000.-
Ternyata ada tiga orang yang lari ke depan. Memang agak “merusak” suasana wisuda yang mestinya agak sacral. Tapi saya tidak peduli. Saya piker cara ini akan lebih konkrit dalam menggugah jiwa anak muda. Lalu saya minta masing-masing menceritakan tentang apa yang akan dia perbuat besok pagi. Cerita mereka sungguh mengejutkan saya. Yang satu orang, sebut saja Amin, mengatakan nanti sore akan pulang ke Ngawi, tempat kelahirannya. Amin mengatakan akan langsung membeli kerupuk yang diproduksi orang-orang di desanya untuk dibawa ke Surabaya. Sebagai mahasiswa yang sudah lima tahun tinggal di Surabaya, dan sebagai anak kos-kosan yang tentu sering makan kerupuk, dia tahu berapa harga kerupuk di Surabaya dan berapa harga kerupuk di desanya. Belum lagi, menurut Amin, rasa kerupuk yang ada di desanya jauh lebih enak disbanding kerupuk yang selama ini sering dia makan di Surabaya. Amin sudah bisa menghitung berapa margin yang dia peroleh. Bahkan masih ditambahi keuntungan lain berupa idealisme. “saya harus membantu orang-orang desa saya untuk bisa memasarkan kerupuk produk mereka,” katanya bersemangat.
Lalu Amin saya tanya. Modalnya dari mana? “Lha, ini!,” katanya sambil menunjukkan jarinya ke uang yang saya pegang. Seluruh wisudawan tertawa dan bertepuk tangan. Lalu saya tanya seandainya tidak ada uang ini, dari mana modalnya. Amin menjawab bahwa dia bisa mengambil kerupuk itu dengan cara mengutang dan setelah dapat uang hasil penjualan barulah Amin membayar kepada produsen kerupuk.
Bagaimana kalau tidak laku? “Saya sudah beberapa kali mencoba,” kata Amin. “Setiap pulang liburan, saya coba kembali ke Surabaya membawa kerupuk dalam jumlah yang banyak, dan ternyata tidak ada masalah di bidang pemasarannya,” kata Amin. Mendengar seluruh rencana Amin itu saya langsung memujinya. Juga memberinya nilai IP 3,5 untuknya. Saya lupa bertanya berapa IP-nya sebagai insinyur baru hari itu.
Wisudawan yang kedua, sebut saja Aman. Dia asli Lamongan, sama dengan asal si penulis buku ini. Aman menceritakan bahwa setelah wisuda ini dia pulang ke Lamongan. Besok paginya sudah akan langsung berjualan sandal dan selop. Segampang itukah?” Selama ini saya sudah nyambi jualan sandal. Sambil kuliah saya juga berdagang kecil-kecilan di kaki lima di Surabaya,” katanya. Untuk selanjutnya Aman mengatakan akan membina orang-orang di desanya untuk bisa mnejadi produsen sandal yang baik. Aman akan mengusahakan membeli bahan baku di Surabaya untuk men-suplay para produsen rumah tangga itu. Lalu membeli hasilnya untuk dijual di Surabaya. Sebagaimana juga Amin, Aman pun sangat
konkrit rencananya. Selesai mendengar penuturan Aman itu semua yang hadir memberikan tepuk tangan.
Wisudawan ketiga, sebut saja Amun. Ternyata Amun juga punya rencana yang sangat mirip. Jualan pakaian di kaki lima. Sebagaimana Amin dan Aman, Amun punya rencana hal itu hanyalah titik awal untuk menajdi pengusaha yang lebih besar. Setahap demi setahap dia akan meningkatkan usahanya dna kemudian menjadi pengusaha besar.
Selesai tiga orang itu menyampaikan rencana mereka, saya tentu harus konsekwen membagikan lima lembar ren min bi itu kepada mereka. Saya serahkan saja ke salah satunya, terserah bagaimana membaginya.
Memang dengan cara itu saya terhindar dari keharusan berpidato, tapi juga bisa melihat kenyataan yang konkrit, bahwa di antara 250 wisudawan ternyata hanya tidak orang yang sudah punya rencan konkrit. Yang lebih menarik lagi, tiga-tiganya ternyata sama sekali tidak punya rencana yang ada hubungannya dengan kelulusan mereka sebagai sarjana teknik. Dan yang juga menyenangkan bagi saya adalah: tidak ada di antara yang maju tadi yang menyampaikan keinginannya untuk menajdi pegawai. Klop dengan apa yang dimaksud dengan penulis buku ini.
Tapi, salahkah menjadi pegawai?
Tentu saja tidak. Ada orang yang sangat menikmati menjadi pegawai. Mereka juga hidup bahagia: bernagkat dan pulang kerja bisa terjadwal. Keberadaannya di rumah dan di antara keluarga juga terjamin. Tekanan stress-nya juga tidak seberapa. Kalau mereka bisa bahagia dengan cara itu, mengapa tidak jadi pegawai saja.
Tentu juga jangan berharap kaya. Jadi pegawai “jatah” nya sudah ditentukan. Tapi, bagi mereka, barangkali juga punya pikiran begini: orang hidup kok seperti diperbudak uang. Atau: katanya bekerja itu untuk bisa makan, dan makan itu untuk hidup. Mengapa hidup harus dipakai untuk bekerja yang berlebihan sehingga makan pun tidak sempat? Belum lagi yang punya pikiran begini: semua orang yang ingin kaya, ujung-ujungnya berbuat serakah. Setelah serakah pun masih belum merasa cukup. Lalu meningkat menjadi culas. Orang culas, pikirannya tidak tenang. Maka ujung-ujungnya bisa stroke. Nah, ngapain jadi pengusaha kalau hanya untuk bisa kaya, dan itu berarti harus melewati tahapan serakah dan culas? Tapi hasilnya stroke?
Tentu itu pilihan yang kalau bisa dihindari. Bukankah bisa ada pilihan lain seperti yang sering diucapkan ustadz yang pintar melucu: di dunia hidup kaya di akhirat masuk sorga! Mereka yang memilih hidup sebagai pegawai, biasanya juga punya sandaran sendiri. Sandaran itu setengah filosofi, setengah pasrah dan setengahnya lagi mencerminkan ketidakberdayaan: kalau semua menjadi pengusaha, siapa yang akan menjadi pegawainya?
Ya, tentu tidak akan bisa semua orang jadi pengusaha. Betapa banyak orang yang dengan sungguh-sungguh dan ambisi besar untuk jadi pengusaha tapi kemudian gagal. Pilihan setelah gagal pun beraneka: ada yang menyadari ketidak mampuannya dan kemudian memilih jadi pegawai baik-baik. Ada yang tidak bisa menerima kenyataan sehingga akhirnya jatuh menjadi ahli hutang dan ahli ngemplang.
Para pemula bisnis umumnya jatuh di bidang keuangan. Seseorang yang tidak biasa bisnis, sering salah dalam menyingkapi uang: menghemat, berhitung, dan menagih. Dari pengalaman saya mengelola dari 140 perusahaan seperti sekarang ini, banyak sekali saya lihat perusahaan pemula yang mengeluh karena cash flow-nya seret, tapi tagihannya (piutangnya) besar. Bagi yang salah dalam menyingkapi uang, maka yang dilakukan bisa saja bukan mengeraskan penagihan namun justru melakukan pinjaman. Sebenarnya, perusahaan itu punya uang, tapi uangnya di tangan orang dan dia tidak melakukan penagihan secara keras kepada orang yang tersebut.
Sampai-sampai saya sering mengadakan likakarya bagaiamana cara menagih yang efektif. Termasuk menghadirkan teman pengusaha yang piawai dalam menemukan cara-cara menagih yang gigih. Seorang teman misalnya, sampai harus tidur di depan pintu orang yang ditagih karena orang tersebut sering keluar rumah pagi-pagi sekali sebagai upaya menghindari para penagih. Ada juga teman yang duduk di depan pintu ruang rapat sebuah ruang perusahaan karena para pimpinan perusahaan tersebut sulit ditemui, apalagi kalau yang menemni itu untuk melakukan penagihan. Dia pilih duduk di lantai depan pintu ruang rapat tersebut dengan tekad tidak akan bangkit sampai mereka selesai rapat. Dengan demikian tidak akan ada kesempatan bagi mereka untuk menghindar dari penagih. Namun banyak sekali pengusaha pemula yang tidak mau sengotot itu. Akibatnya perusahaannya kesulitan keuangan, padahal dia sebenarnya punya uang banyak.
Tentu banyak juga yang salah karena tidak mau membedakan mana uang yang untuk usaha dan mana uang yang untuk kepentingan rumah tangga. Akibatnya keuangan perusahaan campur aduk dan terseret ke mana-mana. Karena itu memilih orang keuangan yang baik adalah salah satu kuncinya. Yakni orang keuangan yang bisa punya keberanian besar untuk mengatakan “tidak” termasuk kepada atasan atau pemilik perusahaan. Saya pernah terpaksa melakukan lokakarya yang dihadiri khusus oleh para kepala keuangan perusahaan dalam grup yang saya pimpin. Di situ juga saya hadirkan pimpinan-pimpinan mereka. Saya tidak beritahu apa topki rapat hari itu. Saya baru memberitahukannya ketika membuka lokakarya tersebut. Mereka kaget ketika tahu topik yang saya tentukan adalah: Kiat-kiat menolak bon pimpinan.
Di situ dibahas semua soal bagaimana pimpinan yang suka ngebon, sambil merayu atau menekan bagian keuangan. Atau bagaimana pimpinan yang sering ngebon tersebut tidak menyelesaikannya dalam waktu dekat sehingga di bagian keuangan terlalu banyak kasbon yang menggantung. Sejak lokakarya itu maka tidak ada lagi pimpinan yang berani ngebon. Apalagi dengan cara menekan bagian keuangan. Bagian keuangan pun menjadi bahagia dan puas karena tidak perlu lagi stress atau tertekan karena harus menghadapi pimpinannya sendiri yang suka ngebon. Musuh lain pengusaha baru adalah “mimpi”. Banyak sekali kasus saya temukan seseorang yang baru mulai usaha sudah ingin mengerjakan bisnis berbagia macam bidang. Akhirnya dia tidak focus. Padahal focus adalah “rukun iman” dari bisnis.
Ketika saya mengemukakan soal ini, lalu muncul pertanyaan: mengapa Anda sendiri berusaha di begitu banyak bidang? Mulai Koran, percetakan, pabrik kertas, pembangkit listrik? Tentu saya tidak sulit menjawabnya. Saya tidak bisa disamakan dengan pemula. Ibarat seorang agamawan orang seperti saya sudah harus dikategorikan sebagai sudah memasuki (he,he) “tasawuf perusahaan”. Jangan dilihat sekarang. Dulunya, bertahun-tahun saya sangat focus, siang-malam, bangun tidur hanya mengiurusi soal kemajuan Koran. Semua “syariat” perusahaan sudah saya lemati. Maka saya sudah boleh “naik kelas”. Tapi saya juga sudah cukup matang utnuk bila diperlukan harus focus lagi hanya di satu bidang, (katakanlah kalau ternyata terjadi krisis perusahaan) tidak akan ada keberatan apa pun dari saya. Tidak akan lagi malu atau merasa turun gengsi. Tahap itu sudah lewat. Emosi, gengsi, dan sebangsanya sudah tidak lagi jadi factor bagi saya.
Tapi bagi yang baru berusaha, focus adalah harga mati. Saya sering menyebutkan itulah “tauhid perusahaan”. Orang yang tidak focus sama saja dengan orang yang tidak beriman, karena dia dengan gampang menduakan pikirannya untuk ke hal-hal yang tidak focus.
Inti tauhid adalah meng-esa-kan. Kalau saya terjemahkan dalam bisnis, maka meng-esa-kan di situ berarti focus. Siapa yang tidak focus berarti menduakan perhatian. Siapa yang menduakan berarti musyrik. Siapa yang musyrik hukumannya masuk neraka. “Musyrik perusahaan” juga ada nerakanya sendiri: bangkrut!

Beijing, 10 Desember 2004
Dahlan Iskan

dikutip dari buku KayTAnpaBekerja(safak Muhammad)

Categories: Inspirasi Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s